Genetika Optimisme
keuntungan kognitif dari harapan untuk kelangsungan hidup
Mari kita mundur sejenak ke sekitar tujuh puluh ribu tahun yang lalu. Bayangkan kita sedang duduk berkerumun di dalam gua yang gelap dan lembap. Di luar sana, angin zaman es berhembus sangat kencang. Harimau saber-toothed berkeliaran, siap menerkam apa saja yang bergerak. Kita tidak punya cakar yang tajam. Kita tidak punya taring. Kulit kita tipis dan gampang terluka. Secara logika, sebagai spesies, kita seharusnya sudah punah. Namun, anehnya, ada satu atau dua orang di kelompok kita yang tiba-tiba berdiri, mengambil tombak batu, dan berkata, "Ayo keluar, siapa tahu di balik bukit itu ada kawanan rusa." Pernahkah kita memikirkan, dari mana datangnya dorongan tidak masuk akal itu? Mengapa di tengah ancaman kematian yang begitu nyata, manusia purba masih bisa membayangkan hari esok yang lebih baik?
Selama berabad-abad, kita sering menganggap harapan atau optimisme itu murni soal karakter. Kita mengiranya sebagai produk dari didikan, atau mungkin sekadar hasil dari membaca buku self-help yang tepat. Sering kali kita diajarkan untuk bersikap realistis. "Jangan terlalu berharap, nanti kecewa," begitu kata orang-orang bijak di sekitar kita. Namun, terlepas dari semua sinisme dan rasa sakit yang mungkin pernah kita alami, ada satu hal yang sangat menarik dari psikologi manusia. Sebagian besar dari kita, entah bagaimana, tetap menyimpan sedikit keyakinan bahwa masa depan kita akan sedikit lebih baik daripada masa lalu. Fenomena aneh ini oleh para psikolog disebut sebagai optimism bias atau bias optimisme. Ini adalah sebuah "kerusakan" kognitif, sebuah ilusi di dalam kepala kita. Namun, pertanyaannya sekarang perlahan mulai bergeser. Bagaimana jika ilusi ini bukanlah sebuah kelemahan? Bagaimana jika bias optimisme ini adalah sebuah perangkat keras yang sengaja ditanamkan alam ke dalam biologi kita?
Untuk memecahkan misteri ini, para ilmuwan saraf mulai memasukkan orang-orang ke dalam mesin pemindai otak, atau fMRI. Mereka meminta para peserta untuk membayangkan kejadian di masa depan. Saat teman-teman membayangkan hal-hal baik—seperti mendapat promosi, atau liburan yang menyenangkan—ada dua area di otak yang tiba-tiba menyala terang. Area itu adalah amigdala (pusat emosi kita) dan rostral anterior cingulate cortex atau rACC (bagian otak yang mengatur motivasi). Semakin optimis seseorang, semakin kuat komunikasi antara kedua area ini. Otak kita ternyata secara harfiah merakit masa depan dari potongan-potongan memori masa lalu. Namun, penelitian ini memunculkan teka-teki baru. Mengapa lampu di otak beberapa orang menyala lebih terang daripada yang lain? Mengapa ada orang yang bisa tetap tersenyum setelah bisnisnya bangkrut, sementara yang lain terpuruk hanya karena ban motornya bocor? Para ahli genetika pun turun tangan. Mereka mulai membedah sesuatu yang jauh lebih kecil dari otak. Mereka melihat ke dalam rangkaian DNA kita, dan apa yang mereka temukan di sana sungguh di luar dugaan.
Ini dia temuan besarnya. Optimisme ternyata memiliki jejak genetik. Para peneliti menemukan bahwa harapan sangat dipengaruhi oleh gen OXTR, yaitu gen yang mengatur reseptor oksitosin di otak kita. Oksitosin sering disebut "hormon cinta", hormon yang membuat kita merasa aman dan terhubung dengan orang lain. Mereka yang memiliki variasi gen OXTR tertentu ternyata memiliki tingkat optimisme dan empati yang jauh lebih tinggi. Tidak berhenti di situ, ada juga gen pengangkut serotonin yang disebut 5-HTTLPR. Gen ini punya dua versi: pendek dan panjang. Teman-teman yang mewarisi dua salinan versi "panjang" dari gen ini memiliki kecenderungan bawaan untuk mengabaikan gambar-gambar negatif dan lebih fokus pada hal-hal positif. Secara biologis, otak mereka di- setting untuk mencari cahaya di ruang gelap. Mari kita kembalikan penemuan ini ke nenek moyang kita di dalam gua tadi. Mereka yang pesimis mungkin tidak pernah kecewa, tapi mereka mati kelaparan karena takut keluar gua. Sementara itu, mereka yang memiliki mutasi gen optimisme berani keluar, bertahan hidup, mencari pasangan, dan mewariskan gen tersebut kepada kita. Harapan bukanlah kepolosan. Harapan adalah strategi bertahan hidup yang paling mutakhir.
Tentu saja, genetika bukanlah sebuah takdir yang mutlak. Lingkungan, trauma, dan pengalaman hidup kita tetap memegang peranan penting. Memiliki sedikit rasa pesimis juga bagus untuk membuat kita tetap waspada saat menyeberang jalan. Namun, mengetahui sains di balik harapan seharusnya bisa mengubah cara kita melihat diri kita sendiri. Di saat-saat di mana dunia terasa sangat kejam, dan masalah datang bertubi-tubi, merasa lelah adalah hal yang sangat manusiawi. Tapi, teman-teman, saat kita merasa tidak punya alasan lagi untuk melangkah maju, ingatlah apa yang mengalir di dalam darah kita. Kita bukanlah keturunan orang-orang yang menyerah pada zaman es, wabah penyakit, atau kelaparan. Di dalam sel-sel tubuh kita, tersimpan cetak biru genetika para pejuang tangguh. Otak dan DNA kita secara evolusioner telah dirancang untuk percaya bahwa fajar pasti akan menyingsing. Jadi, jika hari ini terasa berat, tidak apa-apa untuk beristirahat. Beristirahatlah dengan tenang, karena biologi kita tahu persis bagaimana cara untuk kembali berharap esok hari.